Selasa, 04 Februari 2014

Warga Indonesia Jadi Korban Perbudakan Modern di AS

Warga Indonesia Jadi Korban Perbudakan Modern di AS

PADA awalnya hati Shandra Woworuntu (27), mantan analis keuangan di sebuah bank di Indonesia, berbuncah gembira. Seolah doanya terjawab, surat lamarannya bekerja magang di sebuah hotel di Chicago, Amerika Serikat, mendapat jawaban positif.

Dia dinyatakan lolos dan diterima bekerja magang selama enam bulan. Saat itu Shandra baru diberhentikan dari bank tempatnya bekerja. Berbekal selembar tiket, visa, dan sejumlah uang, Shandra berangkat ke AS untuk menjemput impiannya.

Ketika itu, dia yakin sudah akan kembali ke Tanah Air dengan membawa banyak uang setidaknya dalam enam bulan ke depan. Sejumlah orang menjemputnya di Bandar Udara Kennedy, New York. Mereka bertanya memastikan dia benar bernama Shandra.

Percakapan tersebut adalah satu-satunya momen yang paling dia ingat. Sebab, setelah itu para penjemput tersebut membawanya beserta dua perempuan lain di bawah ancaman pistol.

”Mereka menempelkan pistol di kepala saya. Yang saya pikirkan ketika itu hanyalah berusaha tetap tenang dan bertahan hidup. Saya bahkan tak paham apakah saya diculik,” ujar Shandra dalam bahasa Inggris terbata-bata.

Shandra menceritakan semua petaka terbesar dan kisah tragis dalam hidupnya itu saat diwawancara kantor berita Perancis, AFP, Selasa (28/1/2014), di Humanity United, Washington.

Sejak hari pertama menjejakkan kaki di AS, Shandra dipaksa menjadi pekerja seks komersial di sebuah rumah bordil di kota New York. Bersama korban lainnya, mereka ”ditawarkan” kepada para hidung belang di sejumlah hotel dan kasino di kota itu.

Bersama Shandra ada banyak korban lain, kebanyakan masih berusia remaja dan bahkan seorang anak perempuan berusia 10-12 tahun. Dia mengaku menyesal tak tahu dari mana anak itu berasal lantaran tak bisa mengenali bahasanya.

Shandra bahkan tak lagi tahu berapa lama dia berada di AS. Yang dia ingat, satu waktu suhu udara semakin dingin beberapa bulan dia disekap dan dipaksa menjadi pekerja seks. Dia juga dipindah-pindah di bawah mucikari berbeda-beda.

Salah seorang mucikari berkebangsaan Malaysia bernama Johnnie Wong. Shandra dan korban lain dibawa berpindah-pindah dengan kendaraan van berkaca gelap dan dijaga tukang pukul berbadan raksasa.

Pada satu kesempatan, Shandra berhasil kabur bersama salah seorang rekannya senasib. Mereka keluar dari jendela kamar mandi dan nekat melompat dari lantai dua. Beruntung mereka selamat tak terluka.

FBI tak percaya

Setelah kabur, Shandra dan rekan senasibnya masih harus berjuang, terutama meyakinkan sejumlah pihak terhadap pengaduan mereka. Sangat disayangkan, selama beberapa pekan mencoba mencari perlindungan, pihak-pihak yang mereka datangi tak ada yang memercayai ceritanya.

Padahal, tak cuma meminta perlindungan dan mengadu kepada gereja, mereka juga telah mencoba melapor ke kepolisian, dan bahkan Biro Investigasi Federal AS (FBI) yang justru tak bekerja ”seprofesional” seperti di dalam film-film Hollywood.

Dalam upayanya itu, Shandra bahkan pernah jatuh kembali ke tangan mucikari lain. Beruntung dia kembali lolos dan mendapatkan perlindungan semestinya dari lembaga swadaya masyarakat Safe Horizon, yang khusus menangani korban praktik perdagangan manusia.

Aliansi untuk Menghentikan Perbudakan dan Perdagangan Manusia di AS (Humanity United) menyebut Shandra sebagai salah satu dari 14.000 hingga 17.000 korban pria, wanita, dan anak-anak.

Mereka setiap tahun diselundupkan ke AS untuk kemudian dipaksa menjadi pekerja seks atau pekerja paksa di sejumlah pertanian, bar, dan pabrik-pabrik yang ada di seluruh AS.

”Semua itu kejahatan terorganisasi oleh organisasi kriminal,” ujar direktur aliansi, Melysa Sperber.

Menurut Sperber, organisasinya telah mendesak Pemerintah AS bertindak tegas. Terlebih dalam laporan tahunan perdagangan manusia global 2013, Pemerintah AS mengakui negaranya menjadi negara ”sumber, transit, dan tujuan, baik pria, wanita, maupun anak-anak, dari dalam dan luar negeri”.

Pemerintah AS juga mengakui, para korban dijadikan tenaga kerja paksa, perbudakan modern, dan bahkan pekerja seks.

Yang mengejutkan, dalam laporan tahunan, Pemerintah AS pada 2013 juga menyebut Indonesia sebagai negara asal korban perbudakan dan perdagangan manusia ke AS.

Lebih lanjut, walau masih sangat terluka secara emosional dan psikologis, Shandra membantu aparat keamanan AS meringkus salah satu jaringan kriminal yang pernah memperdagangkannya.

”Saya akan terus membantu. Jika saya tak berjuang menyuarakan mereka, yang masih berada dalam bayang-bayang dan tak mampu bersuara, pemerintah, masyarakat, dan dunia tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi!” (AFP/DWA)

Asia Anggap Penting Kebutuhan Energi Masa Depan

Asia Anggap Penting Kebutuhan Energi Masa Depan

KOMPAS/HERU SRI KUMORO Lampu penerangan jalan dengan panel surya atau solar sel terpasang di ruas tol dalam kota di sekitar Gedung Parlemen, Jakarta, Minggu (10/6/2012). Penggunaan panel surya yang direncanakan sebanyak 1.800 titik antara Cawang-Cengkareng ini diharapkan bisa menghemat biaya listrik hingga 620 juta per bulan.
        
KOMPAS.com - Survei tentang energi masa depan di sembilan negara Asia menunjukkan kebutuhan energi masa depan adalah hal penting. Survei yang dihelat oleh Shell yang menugaskan Ipsos tersebut mencakup negara-negara Asia seperti Brunei Darussalam, Korea Selatan, India, Indonesia, Pakistan, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Dengan tajuk "Survei Energi Masa Depan", jajak pendapat itu menyertakan 8.446 orang pada 31 kota di 9 wilayah. Menurut informasi yang diterima Kompas.com pada Selasa (4/2/2014), survei dilaksanakan sejak Januari sampai dengan 2013.

Dari survei itu terlihat kalau Thailand, Filipina, dan India menduduki daftar teratas dari sembilan negara Asia yang mengaku sangat khawatir dengan kebutuhan energi masa depan, di tengah meningkatnya tekanan pada energi, air dan makanan yang semakin tinggi guna mengimbangi pertumbuhan populasi yang terus naik. Sebanyak 80 persen responden menempatkan pentingnya kebutuhan energi masa depan jangka panjang di peringkat yang sama dengan kekhawatiran akan kebutuhan sehari-hari seperti pendidikan publik dan biaya hidup.

Kekhawatiran ini muncul di tengah meningkatnya tekanan energi global. Pada 2030, dunia akan membutuhkan 40 hingga 50 persen energi, air, dan makanan yang lebih banyak seiring dengan kenaikan permintaan dan pertambahan populasi. Tekanan yang sangat besar akan terjadi pada sumber-sumber vital ini karena energi digunakan untuk mengolah dan menggerakkan air. Sementara, air dibutuhkan untuk menghasilkan energi. Lalu, energi maupun air dibutuhkan dalam produksi bahan makanan.

Sebagian besar responden survei percaya bahwa kekurangan energi dan harga energi yang semakin tinggi akan memberikan dampak signifikan pada negara mereka. Isu-isu yang dinilai paling relevan adalah kekurangan energi di Thailand (91 persen) dan Korea Selatan (70 persen), harga energi yang semakin tinggi di India (91 persen) dan Singapura (79 persen), kekurangan air di Vietnam (89 persen), dan kekurangan bahan makanan di Indonesia (86 persen).

Survei ini mengindikasikan Asia mendukung beragam sumber energi masa depan. Berkenaan dengan hal tersebut, energi surya dan gas alam yang menempati posisi teratas di banyak negara. Energi surya merupakan sumber energi masa depan yang paling diharapkan di sebagian besar negara  mencakup Singapura (86 persen), Thailand (83 persen), dan India (77 persen).

Gas alam disebut sebagai sumber energi masa depan yang paling diharapkan di Brunei (87 persen). Gas alam pun adalah sumber energi masa depan kedua yang paling banyak dipilih di Singapura (52 persen), Indonesia (43 persen), dan India (43 persen).

Para responden survei setuju bahwa kolaborasi antara industri, pemerintah, dan masyarakat, serta inovasi dan dukungan untuk energi yang lebih bersih, adalah faktor-faktor terpenting dalam membentuk kebutuhan energi di masa depan. Peran pemerintah dipandang sangat penting di sebagian besar negara sementara peran masyarakat dianggap sebagai hal terpenting di Thailand.

Berbagai tantangan energi Asia di masa depan dan hasil survei akan didiskusikan secara mendalam pada Kamis, 6 Februari 2014 di forum Shell Powering Progress Together. Forum ini akan mempertemukan para pelaku bisnis, pemimpin pemerintahan, akademisi dan masyarakat sipil. Sekitar 300 peserta akan berpartisipasi dalam forum ini untuk membahas tantangan air, makanan dan energi dunia yang semakin meningkat. Acara ini diselenggarakan bersamaan dengan kompetisi Shell Eco-marathon 2014 di Manila, Filipina.

Era Globalisasi Sangat Memerlukan Jati Diri Bangsa Yang Berkarakter

Era Globalisasi Sangat Memerlukan Jati Diri Bangsa Yang Berkarakter

Semangat dan jiwa kebangsaan adalah antithesis dari cara berpikir, bersikap dan berperilaku individual atau perorangan, kedaerahan, kepartaian, golongan, aliran dan antithesis dari cara berpikir, bersikap dan berperilaku kolonial. Oleh karena itu, dalam memahami nilai-nilai persatuan untuk mewujudkan Indonesia ke depan yang lebih adil, damai dan sejahtera yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara yang meliputi dimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan. Hal ini dikemukakan Mendagri Gamawan Fauzi dalam sambutannya pada pembukaan jelajah Nusantara Tahun 2011 beberapa waktu yang lalu di Manado Sulawesi Utara yang disampaikan oleh Dirjen Kesbangpol Kemendagri A. Tanribali L. Kegiatan jelajah Nusantara Tahun 2011 berlangsung dalam beberapa hari, yang dimulai dengan seminar dan dialog kebangsaan, bantuan sosial dan acara pemasangan Prasasti Bhinneka Tunggal Ika, untuk menggali dan memahami arti pentingnya wawasan kebangsaan, sehingga pada akhirnya dapat diimplementasikan pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Semua kegiatan yang diikuti oleh wakil dari 33 Provinsi se Indonesia tersebut dapat menjadi kesempatan yang sangat baik untuk memperkuat rasa persatuan, kesatuan dan persaudaraan sesama warga bangsa kata Mendagri. Melalui kegiatan jelajah Nusantara 2011 ini juga diharapkan seluruh peserta dapat mempelajari beberapa problematik kebangsaan yang sedang kita hadapi, dan merumuskan usulan langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah, terutama dalam memelihara semangat persatuan dan kesatuan bangsa sebagai modal dasar pembangunan nasional dan untuk menjaga keutuhan NKRI.

Memerlukan Jati Diri
 Dalam kegiatan itu Mendagri menyegarkan kembali ingatan peserta bahwa kemerdekaan Bangsa Indonesia bukanlah hasil pemberian dari para penjajah, melainkan diraih dengan perjuangan dan pengorbanan jiwa dan raga. Apa yang kita nikmati sekarang ini adalah rangkaian dari perjuangan the founding fathers, yang telah meletakkan dasar dan cita-cita kemerdekaan sehingga kita menjadi satu bangsa yang berdaulat. Oleh karena itu, kita juga harus mampu mengambil hikmah dari perjuangannya, yang menjadi landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, katanya. Pancasila dan UUD Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai suatu nilai yang terlahir dengan konsep NKRI dalam proklamasi kemerdekaan RI sebagai nilai moral pembangunan nasional disegala bidang terlebih lagi di era global yang sangat memerlukan jati diri bangsa yang berkarakter, menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan, dan berdaya saing. Kondisi tersebut merupakan modal berharga bagi bangsa Indonesia dalam menjaga keutuhan NKRI. Pelaksanaan Jelajah Nusantara 2011 mengangkat tema “Dengan Jelajah Nusantara 2011 Kita Tingkatkan Wawasan Kebangsaan dan Cinta Tanah Air untuk memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa” dengan sub tema “Bersatulah Bangsaku dan Jayalah Negeriku : melalui kegiatan Jelajah Nusantara 2011 dapat dijadikan sebagai kesempatan yang baik dalam rangka memperteguh keyakinan kita akan pentingnya menjaga nilai persatuan dan kesatuan bangsa dalam pembangunan nasional.
Marilah kita cermati dan merefleksikan diri dari rangkaian perjuangan bangsa Indonesia untuk membentuk Negara yang merdeka, bersatu dan berdaulat, NKRI berhasil ditegakkan, akan tetapi bukan berarti perjuangan sebagai Negara bangsa telah usai. Justru saat menjadi bangsa yang merdeka itulah perjuangan yang sesungguhnya yaitu upaya mengisi kemerdekaan, kata Mendagri Gamawan Fauzi. Seiring pergantian pemerintahan, dinamika dalam upaya mengisi kemerdekaan terus berlangsung. Berbagai permasalahan datang silih berganti, dimana semua memerlukan kerja keras dan keterlibatan segenap anak bangsa untuk mengatasinya. Namun kita sadari dan yakin, bahwa nilai-nilai kebangsaan dan semangat persatuan dan kesatuan yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita akan tetap menjadi acuan dalam mengurangi perjalanan bangsa Indonesia hari ini dan esok, kata Mendagri Gamawan Fauzi.

makalah kelompok 10 “MODEL PEMBELAJARAN PERSPEKTIF GLOBAL DALAM IPS SD”

PERSPEKTIF GLOBAL

MODEL PEMBELAJARAN PERSPEKTIF GLOBAL DALAM IPS SD

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Mata kuliah perspektif global diperkenalkan dan menjadi mata kuliah sangat populer karena berkaitan dengan proses globalisasi yang mulai berkembang saat ini. Mata kuliah perspektif global membuka wawasan untuk memahami dunia dan seisinya, sehingga menumbuhkan kesadaran bahwa dunia yang begitu kompleks dan luas itu dapat menjadi sempit dan sederhana disebabkan oleh kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).
Mata kuliah ini juga memberikan bekal kepada calon pendidik untuk dapat memberikan pengetahuan dan meningkatkan kesadaran anak didik, bahwa dunia yang lebih luas ini perlu dipahami, dan dipelihara. Tanpa kita memahami dunia ini maka kita akan tertinggal oleh manusia lain yang sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan yang lebih baik dalam memahami dunia. Mata kuliah ini juga merupakan pendekatan menyeluruh yang memungkinkan pendidik dan siswa dapat memahami dirinya sendiri serta hubungannya dengan masyarakat dunia.
Oleh karena itu, perspektif global sangat penting bagi pendidik, mengingat bahwa kita sedang memasuki era globalisasi dan keterbukaan. Tanpa memahami dunia ini, mungkin kita tersesat oleh arus globalisasi yang begitu deras. Agar kita mampu memanfaatkan dunia ini bagi kesejahteraan manusia maka kita harus memahami dunia. Dengan demikian cara pandang kita yang mungkin sempit selama ini harus berubah menjadi cara pandang yang luas dan global. Artinya segala sesuatu peristiwa, dan masalah harus dipandang dari sudut kepentingan global.

  1. Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan  materi (pokok bahasan)?
2.      Apa yang dimaksu dengan proses pembelajaran?
3.      Apa saja tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran?
4.      Apa saja teknik evaluasi dalam pembelajaran?
5.      Bagaimana konsep pembelajaran?
6.      Bagaimana pengembangan teknik evaluasi dalam pembelajaran?

  1. Tujuan Rumusan Masalah
1.      Untuk mengetahui materi (pokok bahasan).
2.      Untuk mengetahui proses pembelajaran.
3.      Untuk mengetahui tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran.
4.      Untuk  mengetahui teknik evaluasi dalam pembelajaran.
5.      Untuk mengetahui konsep pembelajaran.
6.      Untuk mengetahui pengembangan teknik evaluasi dalam pembelajaran





















BAB II
LANDASAN TEORI

Dalam kehidupan manusia, banyak masalah yang menunjukkan pertentangan (controversial) dsatu kenyataan dengan kenyataan lainnya. Dapat kita amati bersama dari tempat tinggal masing-masing (lokal), tingkat wilayah yang lebih luas (provinsi), antar wilayah negara (antar regional), sampai ke tingkat dunia (global)
Dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran IPS, dan lebih khusus lagi tentang pembelajaran masalah – masalah controversial dalam konteks prespektif global ada empat komponen yang harus diperhatikan. Empat komponen tersebut meliputi materi (pokok bahasan), proses pembelajaran, dan hasil atau produk yang akan dicapai (tujuan), serta teknik evaluasi sebagai kulminasinya.
A.    MATERI (POKOK BAHASAN)
Selaku guru IPS untuk menjawab pertanyaan materi pembelajaran yang akan disajikan pada pengajaran IPS guru harus menggali dan merumuskan materi yang akan disajikan sesuai dengan tingkat perkembangan murid yang akan memperoleh materi yang bersangkutan.
Berbicara tentang sumber materi, khususnya tentang masalah-masalah kontroversional, pertama yang harus dilakukan selaku guru IPS harus mengacu pada kurikulum yang berlaku. Untuk menambah, mengembangkan dan memperkaya materi yang ada dalam kurikulum, selaku guru IPS harus menggali sumber-sumber lainnya. Ke dalam sumber tersebut yang paling utama yaitu masyarakat dan lingkungan tempat kita dan anak-anak berada. Sumber lain yang dapat dijangkau dan ada disekitar kita, yaitu bahan bacaan berupa buku, surat kabar, tabloid dan majalah. Selanjutnya juga media elektronik yang menyiarkan berita, baik berita nasional maupun dunia.

B.     PROSES PEMBELAJARAN
Proses pembelajaran yang akan ditempuh dan dilaksanakan, tidak dapat dilepaskan dari sifat materi yang akan dibahas, dan produk atau tujuan yang harus dicapai. Oleh karena itu, metode dan strategi yang akan diterapkan serta media pengajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran, harus disesuaikan dengan sifat materi dan tujuan yang akan dicapai.
Dari berbagai metode pengajaran dan strategi mengajar sebaiknya guru IPS dapat menseleksi dalam penerapan dan penggunaannya sesuai dengan sifat materi dan tujuan yang akan dicapai.

C.     TUJUAN YANG AKAN DICAPAI
Benjamin S. dan kawan – kawan (1965), dalam bukunya yang berjudul (Taxonomy of Educational Objectives) menemukan tiga aspek perilaku yang menjadi tujuan pendidikan dan pengajaran, yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

D.    TEKNIK EVALUASI
Teknik evaluasi meliputi, non-test dan test. Evaluasi non-test, meliputi penilaian kegiatan tugas dan penampilan. Penampilan ini menjadi pendorong kegairahan dan penciptaan suasana persaingan yang sehat yang menjadi dasar kemajuan individu siswa dalam mengembangkan dorongan ingin tahu, minat, membuktikan kenyataan serta dorongan menemukan sendiri hal-hal yang berkaitan dengan apa yang sedang dipelajarinya.
Evaluasi non-tes ini juga diterapkan pada kesempatan tanya-jawab dan diskusi untuk menilai berapa jauh para siswa memahami konsep-konsep yang dikembangkan dalam proses pembelajaran.
Evaluasi tes, dalam bentuk tes tertulis meliputi bentuk uraian (essay) dan objektif tes. Evaluasi tes ini untuk mengukur berapa jauh penguasaan siswa terhadap pokok bahasan yang di proses dan disajikan. Penilaian harus dilakukan secara berkesinambungan dan menyeluruh sehingga menghasilkan tingkat evaluasi yang komprehensif.

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PRESPEKTIF GLOBAL
  1. Memperhatikan hakikat dasar mental yang melekat pada diri tiap individu siswa yang meliputi :
a.       Dorongan ingin tahu yang harus dilayani dan dikembangkan
b.      Minat terhadap sesuatu, khususnya terhadap pokok bahasan yang disajikan
c.       Dorongan ingin membuktikan sendiri apa yang dipelajari dalam kenyataan dilapangan
d.      Dorongan ingin menemukan sendiri hal-hal yang dipelajari di lapangan, dalam kehidupan praktis
  1. Memperhatikan asas-asas pembelajaran yang meliputi :
a.       Dari yang telah diketahui kearah yang akan diketahui
b.      Dari yang mudah ke arah yang makin sukar
c.       Dari yang dekat kea rah yang makin jauh
d.      Dari yang konkret kea rah yang makin abstrak
  1. Kegiatan proses belajar-mengajar
3.1  Selaku guru IPS mengajukan pertanyaan “apakah anak-anak” sudah mengetahui adanya kontroversional di lingkungan tempat tinggal mereka. Fenomena kontroversial antara lain kemiskinan di satu pihak dan kemewahan di pihak lain, kekumuhan dan kekotoran di satu pihak dan kebersihan
3.2  Dari tanya jawab tersebut, selaku guru IPS membawa minat dan perhatian murid ke lingkup yang lebih jauh tentang fenomena kontroversional yang telah diketahui oleh para siswa. Dalam hal ini, penggunaan peta Indonesia atau peta dunia sangat membantu citra penjelajahan para siswa
3.3  Melalui ceramah dan tanya jawab, informasi dan tentang fenomena kontroversional itu terus dikembangkan. Tingkat kemampuan siswa sesuai dengan asas pembelajaran, tetap harus menjadi pegangan
3.4  Dengan menerapkan asas evaluasi yang berlanjut dan berkesinambungan, dalam proses penyampaian informasi melalui ceramah guru mengajukan pertanyaan untuk mengecek para siswa tentang pemahaman materi yang dibahas
3.5  Tidak semua materi pembelajaran diproses melalui kegiatan pembelajaran di dalam kelas, siswa dapat ditugaskan berupa observasi di lingkungan sekitar siswa. Penerapan metode tugas ini dapat mengembangkan strategi keberanian bertanya, berkomunikasi dan keterampilan dalam berbagai aspek
3.6  Siswa digiring keterampilannya untuk mengumpulkan guntingan dari media cetak tentang pemberitaan masalah-masalah yang kontroversial.
Penerapan metode tugas, kegiatan ini dapat dilakukan terhadap siswa secara individual maupun kelompok. Tugas individual memenuhi strategi pengembangan keterampilan motorik dan intelektual masing-masing siswa, sedangkan tugas kelompok mengembangkan strategi keterampilan sosial.

  1. Pengembangan Teknik Evaluasi
Pada proses pembelajaran khususnya pembelajaran IPS merupakan kegiatan puncak. Namun demikian, pelaksanaannya tidak hanya dilakukan pada akhir proses pembelajaran. Evaluasi dilakukan secara bertahap berkesinambungan sesuai dengan proses pembelajaran . Oleh karena itu, apa yang harus dirumuskan dalam model pembelajaran dapat Anda terapkan melalui tahap-tahap sebagai berikut.
4.1  Pada tahap awal pada waktu Anda bertanya apakah anak-anak sudah mengetahui adanya fenomena yang controversial di lingkungan tempat mereka, berarti Anda melakukan evaluasi kepada para siswa tentang apa yang mereka sudah ketahui dan apa yang belum diketahuinya.
4.2  Selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung, pada saat tanya jawab Anda juga melakukan evaluasi baik berkenaan dengan jawaban mereka maupun mengenai pertanyaan ysng mereka ajukan. Dari jawaban yang mereka ajukan, Anda dapat menilai berapa jauh mereka telah memahami apa yang termasuk ke dalam fenomena dan masalah controversial. Dari pertanyaan yang mereka ajukan juga Anda dapat menilai apakah sudah mampu mereka menangkap apa yang dibahas, dan Anda juga dapat menilai keraguan-keraguan serta kepastian para siswa menangkap makna yang menjadi pembahasan. Proses ini juga menjdi umpan balik bagi Anda sendiri untuk menilai apakah sudah benar Anda melaukan proses kegiatan belajar mengajar itu.
4.3  Dalam menerapkan metode tugas, banyak hal yang dapat Anda evaluasi mulai dari kepatuhan dan ketepatan waktu (disiplin) melakukan tugas kualitas informasi bahan dan barang yang dikumpulkan dan sikap para siswa melaksanakan tugas ( senang hati, merasa sebagai kebutuhan, keterpaksaan ).
4.4  Para pelaksana karyawisata dekat atau jauh evaluasi meliputi aspek yang cukup luas mulai dari penilaian kemampuan observasi, kerja sama, pemenuhan tugas sampai kepada sikap yang tercermin dari perilaku siswa pada saat dan sesudah karyawisata itu dilaksanakan. Penilaian baik kuantitatif maupun kualitatif disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa dan sifat serta tingkat karyawisata yang bersangkutan ( berapa persen piknik, berapa persen pengetahuan, berapa persen tugas ). Karena berkaitan dengan proses pembelajaran, bobot penilaian pada pengetahuan dan tugas lebih diutamakan.
4.5  Evaluasi tertulis Anda lakukan sesuai dengan pertimbangan yang matang, apakah dua kali atau satu kali. Apabila dilakukan dua kali, berarti di tengah-tengah perjalanan proses satu kali. Apabila hanya satu kali, berarti dilakukan pada akhir proses. Pilihan tadi bergantung pada luasnya pokok bahasan yang menjadi materi. Pilihan bentuk evaluasi, bergantung pada pertimbangan rasional anda. Hanya harus dipahami betul keunggulan dan kelemahannya, apakah ter uraian (essai) atau tes objektif.
4.6  Keseluruhan hasil penilaian, kuantitatif (dengan angka) ataupun kualitatif (baik,sedang,buruk) dari segala aspek dipadukan. Dengan cara ini Anda dapat mengharapkan memperoleh kesimpulan meneluruh tentang keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Dari evaluasi secara menyeluruh tersebut,  bukan hanya tingkat penguasaan siswa terhadap hasil beajarnyaa yang dapat dinilai, melainkan lebih jauh lagi sebagai “umpan balik” kinerja Anda juga dapat dinilai.
Setelah kita membahas perancangan dan penerapan model pembelajaran IPS dalam konteks perspektif global dengan pokok bahasan masalah-masalah controversial secara menyeluruh, marilah kita lanjutkan dengan membahas model pembelajaran yang lebih sempit tentang strategi pembinaan konsep. Konsep-konsep yang akan dikembangkan tentu saja tidak terlepas dari konteks perspektif global.

E.     Konsep
Dalam prespektif global, ada beberapa konsep yang dapat diketengahkan antara lain saling ketergantungan, perdamaian, kesejahteraan bersama, dan lain sebagainya.

1.        Pembinaan konsep
Pembinaan konsep dapat diartikan sebagai proses pengajaran aspek konotatif konsep – konsep. Proses ini membutuhkan waktu lama untuk memperkenalkan konsep kepada kepada para siswa dalam berbagai kesempatan sehingga siswa dapat menemukan sendiri keragaman konotasi dari suatu konsep.
2.        Strategi pembinaan konsep
Dalam Strategi Pembianaan Konsep, proses pembelajaran itu secara dominan diarahkan pada penguasaan suatu kata atau suatu ungkapan sampai terjadi pola pengertian abstrak atau konsep dalam diri  yang mempelajarinya, disini berarti dalam diri siswa.
3.        Penerapan model pembelajaran pembinaan konsep
a.       Anda memperhatikan hakikat dasar mental anak (rasa ingin tahu,minat, ingin membuktikan kenyataan, dorongan ingin menemukan sendiri) yang menjadi modal bagi si anak dan juga bagi Anda dalam proses pembelajaran.
b.      Memperhatikan asas-asas pembelajaran dengan memperhatikan dengan sebaik-baiknya untuk menghindarkan terjadinya pemaksaan kemampuan si anak dalam proses pembelajaran
c.       Kegiatan proses belajar mengajar
3.1  Mulai dengan mengajukan pertanyaan apakah anak-anak sudah mengetahui hal-hal fenomena-fenomena apa fakta yang berkenaan dengan saling ketergantungan yang dialami atau diamati di lingkungan tempat tinggal mereka
3.2  Dari tanya jawab tadi Anda selaku guru IPS mengembangkan minat dan perhatian para siswa untuk mengikuti kegiatan PBM selanjutnya.
3.3  Melalui ceramah dan tanya jawab, informasi tentang slaing ketergantungan baik yang berasal dari guru maupun dari para siswa yang terus dikembangkan. Dengan cara yang menarik minat dan perhatian serta berpegang pada asas peembelajaran
3.4  Dengan menerapkan asas evaluasi Anda mengajukan pertanyaan kepada para siswa untuk menilai apakah mereka dapat mengikuti kegiatan pembinaan konsep tersebut.
3.5  Karena kita yakin bahwa tidak semua materi pembelajaran atau pokok bahasan dapat diproses melalui kegiatan PBM di kelas, Anda mengembangkan metode tugas yang meliputi pengumpulan informasi, observasi dan berkomunikasi dengan berbagai pihak sesuai dengan strategi yang diterapkan
3.6  Melalui tugas yang terarah, para siswa tidak hanya digiring dan dikembangkan kemampuannya untuk membina konsep, melainkan juga dibina keterampilan serta sikap sosialnya.

F.      PENGEMBANGAN TEKNIK EVALUASI
Rangkaian proses evaluasi itu terus dilakukan namun sebagai kegiatan puncak terutama berkenaan dengan penguasaan siswa terhadap apa yang Anda sajikan, evaluasi dalam bentuk tes tertulis harus Anda lakukan, selain untuk menilai kemampuan para siswa tes ini sebagai umpan balik untuk menilai keberhasilan kinerja anak.
Secara komperensif evaluasi yang Anda lakukan itu kegiatan sejak awal sampai penilaian tes akhir. Penilaian itu meliputi kegiatan tanya jawab, diskusi, tugas dengan hasilnya sampai yang terakhir tadi berupa tes tertulis. Evaluasi ini meliputi hal-hal yang kualitatif sampai pada nilai yang dapat diukur.selanjutnya bagaimana mengajarkan bagaimana keterampilan dan sikap social terhadap penajaran IPS yang berkaitan dengan perspektif global tersebut.
Keterampilan yang secara umum dapat diartikan sebagai kemampuan mengajarkan kemampuan yang baik. Dalam pengajaran IPS keterampilan memiliki makna yang luas pada kegiatan membaca. Secara luas keterampilan itu meliputi keterampilan fisik motorik, keterampilan berpikir dan keterampilan social. 
Selanjutnya kita tinjau apa yang diamksud dengan sikap social khususnya. Sikap adalah kecenderungan reaksi yang mantap dari seseorang terhadap sesuatu atau seseorang atau terhadap lingkunagna pada umumnya sedangkan sikap social adalah sikap positif terhadap kondisi dan lingkungan social yang ada serta dihadapi seseorang. Sikap social dalam diri seseorang merupakan proses dan interaksi social yang dialami oleh individu yang bersangkutan.
Pada kesempatan ini kita akan merancanag pembelajaran IPS dalam mengajarkan keterampilan social dan sikap social. Terbina dan berkembangnya keterampilan social dalam diri seseorang, dalam hal ini dalam diri peserta didik tidak dapat dilepas dari adanya sikap social pada individu yang bersangkutan. Dan sebaliknya terbinanya sikap social dalam diri seseorang merupakan hasil pembinaan keterampilan social dalam diri yang bersangkutan. Keterampilan sosial dengan sikap sosial merupakan dua sisi dari suatu mata uang dari suatu mata uang yang tidak terpisahkan satu sama lain. Tingginya kualitas keterampilan social yang melkat pada diri seseorang sangat dipengaruhi oleh kualitas sikap social individu yang bersangkutan dan kembalikannya. Tingginya kualitas sikap social yang menjadi bagian dari diri individu, tidak dapat dilepaskan dari kadar keterampilan social dalam diri orang yang bersangkutan.

MODEL PEMBELAJARAN KETERAMPILAN DAN SIKAP SOSIAL
  1. Memperhatikan hakikat dasar mental anak (sense of curiosity, sense of interest, sense of reality, sense of discovery) yang menjadi modal bagi anak untuk mengembangkan keterampilan dan sikap sosialnya.
  2. Memperhatikan asas-asas pembelajaran dengan sebaik-baiknya
Untuk menghindarkan terjadinya proses yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangan kemampuan peserta didik.
  1. Kegiatan Proses Belajar-Mengajar
3.1  Anda selaku guru IPS mulai dengan pengamatan keterampilan apakah yang telah melekat pada diri perserta didik. Apakah kebiasaan kerja sama (kerja kelompok), bergotong-royong, menolong sesama teman telah ada pada diri mereka. Jika telah ada, tinggal mengembangkan dan memantapkannya lebih lanjut.
3.2  Anda mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengandung persoalan atau masalah untuk mengevaluasi sejauh mana tingkat nalar atau keterampilan berpikir telah mereka dimiliki.  Hal ini merupakan model awal untuk mengembangkan lebih lanjut keterampilan intelektual mereka.
3.3  Anda memberikan  tugas awal berupa membersihkan dan membereskan ruang kelas, menggunakan berbagai media pembelajaran (peta, globe, gambar) utnu mengetahui sejauh mana keterampilan otorik telah ada pada mereka.
3.4  Melalui pengamatan tanya jawab dan tugas awal. Anda dapat menilai tingkat “sikap sosial” anak-anak peserta didik. Dari reaksi untuk kerja kelompok, tolong-menolong, bergotong-royong dan seterusnya.
3.5  Selanjutnya, melalui proses pembelajaran dan pembahasan “perdamaian dan keamanan dunia” dalam lingkup perspektif global, keterampilan serta sikap sosial itu dikembangkan lebih lanjut.
3.6  Keterampilan motorik dan keterampilan sosial, dikembangkan melaui tugas, baik tugas mengumpulkan informasi dan materi tentang hal-hal yang berkaitan dengan perdamaian dan keamanan dunia, maupun tugas untuk mengamati kenyataan berkenaan dengan perdamaian serta keamanan setempat atau sebaliknya yang bertentangan dengan suasana damai dan aman.
3.7  Melalui tanya jawab, diskusi, model pembelajaran stimulus-respons. Anda dapat mengembangkan sikap sosial peserta didik. Rangsangan berupa persoalan-persoalan terhadap perdamaian dan keamanan, lokal, regional serta dunia (global) yang mengundang respons mereka, menjadi sarana mengembangkan sikap sosialnya.
  1. Pengembangan teknik Evaluasi
4.1  Anda selaku guru IPS harus tetap berpegang pada asas evaluasi yang bertahap dan berkesinambungan. Mulai dari saata anda melakukan pengamatan, tanya jawab, dan pemberian tugas awal, anda telah melakukan evaluasi tentang keterampilan dan sikap sosial serta keterampilan dan sikap pada umumnya. Tentu evaluasi lebih bersifat kualitatif.
4.2  Hasil evaluasi kualitatif awal pada butir 4.1 di atas, menjadi pelaksanaan proses pembelajaran lebih lanjut, khususnya pembelajaran keterampilan dan sikap sosial terhadap perdamaian serta keamanan dunia. Evaluasi yang lebih terukur dilakukan pada tes tertulis (formatif, sumatif). Selain dari pada itu juga penilaian terhadap tugas dan hasil tugas peserta didik.
4.3  Dengan memadukan hasil evaluasi pada butir 4.1 dengan 4.2 secara berkesinambungan, anda akan memperoleh hasil evaluasi yang menyeluruh, sehingga memperoleh data penilaian yang memadai dan objektif.























BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Merancang model pembelajaran IPS pada konteks perspektif global di tingkat SD, tidak dapat dilepaskan dari haikat peserta didik dengan potensi dasar mentalnya, tingkat perkembangan kemampuan sesuai dengan umur mereka, dan asas-asas pembelajaran sesuai dengan tingkat kemampuan tadi.
Pada pembelajaran IPS, khususnya dalam konteks perspektif global, sumber dan media pembelajaran utama adalah kehidupan masyarakat yang nyata. Sejalan dengan perkembangan IPTEK, multimedia hasil kemajuan teknologi yang meliputi media cetak (surat kabar, tabloid, majalah) dan media elektronik (radio. TV, video, internet) juga menjadi sumber serta media pembelajaran yang makin bermakna.
Dalam pembelajaran IPS pada konteks perspektif global , bukan hanya memanfaatkan sumber yang majemuk dan menggunakan multimedia, melainkan juga menerapkan multi metode (ceramah, tanya-jawab, diskusi, tugas, karyawisata) serta multistrategi (pembinaan konsep, pengembangan nilai dan sikap , pengembangan keterampilan, inkuiri dan berpikir kritis, tata cara bertanya yang efektif) sesuai dengan sifat perspektif global tersebut.
Sesuai dengan hakikat perspektif global, pendekatan dan evaluasi hasil pembelajaran dilakukan secara bertahap serta berkesinambungan, dimulai dari awal pembelajaran, selama pembelajaran dan pada akhir pembelajaran. pendekatan yang diterapkan mulai dari tingkat lokal dan regional sampai ke tingkat global. Sedangkan evaluasinya mulai dari evaluasi dalam tanya jawab dan diskusi sampai pada pelaksanaan tugas dengan hasilnya sampai pada tes formatif serta sumatif.
Sesuai dengan hakikat perspektif global, guru IPS dituntut memiliki wawasan yang luas tentang berbagai isu dan masalah global yang terjadi dalam kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Sumaatmadja, Nursid. 2012. PDGK4303/2SKS Modul 1-6 Perspektif Global. Tangerang Selatan : Universitas Terbuka.
Wihardit, Kuswaya. PDGK4303/2SKS Modul 1-6 Perspektif Global. Tangerang Selatan : Universitas Terbuka.